Posted by & filed under Kuliner.

Penduduk lokal di kota Sungai Penuh dan kabupaten Kerinci memiliki tradisi unik dengan mengumpulkan kawo yakni tunas muda pohon kopi yang malah jadi gulma. Daun-daunan tersebut diambil untuk kemudian diseduh menjadi minuman khas. Kawo ini dalam menghidangkan pun unik sebab disajikan di dalam batok kelapa. Untuk mereka yang tak biasa meminumnya mungkin menganggap Kawo mempunyai citarasa yang asing.

Tidak jelas juga semenjak kapan lahirnya ide aneh menjadikan daun-daun liar itu menjadi bahan minuman, yang pasti dari melihat tabung Tagek (tabung teko bambu) dan mangkok Sayak (mangkok dari tempurung kelapa) yang digunakan untuk menyajikan minuman itu ada yang telah berumur ratusan tahun, maka dapatlah diduga tradisi ini setidaknya telah tumbuh di masyarakat kota Sungai Penuh dsn kab Kerinci sudah ratusan tahun lalu.

Untuk mendapatkan nilai rasa yang baik, air endapan daun kopi salai tersebut sebelumnya haruslah diangin-anginkan semalaman di atas atap dengan panci yang terbuka agar uap embun menyatu dengan air minuman `sebuk Kawo`nya. Hmm..luar biasa bukan ?

Saya sempat menyarankan agar produksi minuman tradisional itu dikemas dalam botol saja sebagai oleh-oleh bagi wisatawan, tapi menurut masyarakat setempat nilai rasa Sebuk Kawo ini tidak akan sesegar dari wadah Tagek dan diminum dengan cangkir Sayak, makanya mereka hanya menjadikannya sebagai minuman siap saji di tempat, bukan sebagai oleh souvenir berupa minuman botolan,“ katanya.

Related Post